PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG DAN KOOPERATIF TERPADU SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN
November 22, 2008 at 6:43 am Tinggalkan Komentar
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan matapelajaran – matapelajaran lainnya, tidak terkecuali mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk SMP memiliki sejumlah karaktristik tertentu, yang antara lain seperti berikut :
1. IPS merupakan perpaduan dari beberapa disiplin ilmu sosial antara lain : Sosiologi, Geografi, Ekonomi dan Sejarah.
2. Materi bagian IPS terdiri atas sejumlah konsep, prinsip dan tema yang berkenaan dengan hakekat kehidupan manusia sebagai makhluk sosial (homo Socious)
3. Kajian IPS dikembangkan melalui tiga pendekatan utama, yaitu functional-approach, interdicipliner-approach, dan multidicipliner-approach.
4. Materi IPS senantiasa berkenaan dengan fenomena dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yang menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat baik dalam skala kelompok masyarakat, lokal, nasional, regional, dan global.
Berdasarkan karateristik tersebut diatas, dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dirasakan menghadapi masalah yakni rendahnya hasil belajar siswa. Hal itulah yang melatarbelakangi Penelitian Tindakan Kelas ini. Rendahnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan adanya dugaan rendahnya motivasi belajar siswa yang ditunjukkan oleh rendahnya aktivitas dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan mengimplementasikan model pembelajaran langsung dan kooperatif terpadu dalam Kegiatan Belajar Mengajar pada pokok bahasan Uang dan Lembaga Keuangan, sub pokok bahasan Produk dan Jasa Perbankan serta Lembaga Keuangan Bukan Bank.
Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif terpadu, siswa secara berkelompok membaca buku sumber dan brosur-brosur bank yang mereka miliki, menuliskan jawaban soal-soal dalam lembar kerja siswa dan bertukar informasi antar anggota dalam kelompok.
Dan dengan model pembelajaran langsung, guru membimbing siswa untuk menggaris bawahi, menemukan jawaban, membuat catatan dan kesimpulan dari brosur-brosur bank dan buku sumber, serta menayangkan gambar-gambar contoh peragaan beberapa layanan perbankan dan LKBB yang akan disimulasikan. Kegiatan simulasi hanya dilakukan untuk produk dan jasa perbankan dan LKBB yang langsung berhubungan dengan kegiatan siswa dan keluarga siswa secara umum.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah yang diuraikan dalam latar belakang terebut diatas, Penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
- Apakah model pembelajaran langsung dan kooperatif terpadu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa ?
- Apakah minat siswa meningkat setelah diimplementasikannya model pembelajaran langsung dan kooperatif terpadu dalam proses pembelajaran ?
- Apakah implementasi model pembelajaran langsung dan kooperatif terpadu dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan :
- Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
- Untuk meningkatkan minat belajar siswa.
- Untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
a. Meningkatkan motivasi, daya ingat dan hasil belajar siswa.
b. Menumbuhkan sikap bekerjasama dan saling membantu diantara para siswa.
c. Meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya, menjawab dan mengemukakan pendapat.
d. Menumbuhkan rasa percaya diri bagi siswa.
2. Bagi Guru
a. Meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran.
b. Meningkatkan keterampilan menggunakan metode, media dan model pembelajaran yang tepat.
c. Menumbuhkan minat untuk terus melakukan penelitian dan inovasi dalam proses pembelajaran.
3. Bagi Guru Lain
a. Meningkatkan pemahaman tentang penelitian.
b. Menumbuhkan minat untuk melakukan penelitian.
c. Meningkatkan makna bekerjasam a.
4. Bagi Sekolah
a. Meningkatnya profesionalisme guru.
b. Meningkatnya kualitas pendidikan.
BAB II KAJIAN TEORI
Karya Tulis ini dibuat berdasarkan fakta dan data yang diperoleh baik secara teoritis maupun empiris. Dari kajian teoritis dan empiris ini kegiatan penelitian dan pembuatan laporan menjadi lebih sistematis dan terarah. Di bawah ini penulis mencoba untuk mengemukakan landasan teoritis yang berhubungan dengan kegiatan penelitian.
A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses seseorang melakukan tindakan dari yang tidak dapat dilakukan atau diketahuinya, menjadi dapat melakukan atau mengetahuinya. Beberapa pengertian belajar, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut (Sardiman AM., 2006 : 20) :
a. Cronbach memberikan definisi : Learning is showmby a change in behavior as a result of experience.
b. Harold Spears memberikan batasan : Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.
c. Geoch, mengatakan : Learning is a change in performance as a result of practice.
Dari ketiga definisi di atas, dapat diuraikan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku atau penampilan melalui kegiatan mengamati, membaca, meniru, mencoba segala sesuatu, mendengar dan memperagakan langsung, tidak hanya bersifat verbalistik.
Belajar menempatkan seseorang dari status abilitas yang satu ke tingkat abilitas yang lain. Perubahan status abilitas itu, menurut Bloom meliputi tiga ranah atau matra, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor yang dirinci menurut tingkatan jangkauan kemampuan (level of competence), sebagai berikut (Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, DEPDIKNAS : 2004) :
1. Kognitif domain
1) Knowledge (pengetahuan, ingatan)
2) Comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh)
3) Aplication (menerapkan)
4) Analysis ( menguraikan, menentukan hubungan)
5) Synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru)
6) Evaluation ( menilai)
b. Afektif domain
1) Receiving (sikap menerima)
2) Responding (memberikan respon)
3) Valuing (menilai)
4) Organization (mengorganisasi)
5) Characterization (karakterisasi)
c. Psycomotor domain
1) Initiory level (tahap memulai melakukan)
2) Pre-routine level (tahap dapat melakukan dengan benar
3) Rountinized level (terampil dan menjadi kebiasaan melakukan dengan benar)
Ketiga tingkatan tersebut diatas tentu saja tidak harus mencapai tingkatan tertinggi, tetapi disesuaikan dengan tujuan belajar yang akan dicapai.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan tingkah laku dan kemampuan yang dilakukan secara sadar dan disengaja dari kegiatan atau pengalaman yang dilakukan oleh setiap individu. Perubahan-perubahan tingkah laku tersebut terlihat dari kemampuan baru yang dicapainya berupa pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan, sikap nilai, hubungan sosial dan penghargaan.
A. Model Pembelajaran Langsung
Dalam Model Pembelajaran Langsung, tugas guru adalah membantu siswa untuk menggali dan memperoleh pengetahuan secara prosedural. Misalnya bagaimana mengarahkan siswa untuk membaca, menggaris bawahi hal-hal penting dan kemudian menuangkannya dalam kertas kerja dari suatu sumber belajar, seperti ; buku paket, artikel, brosur atau sumber belajar lainnya. Dapat pula seorang guru memberikan contoh bagaimana tehnik diskusi dan berkomunikasi yang baik, mencontohkan tehnik simulasi, simposium dan lain sebagainya.
Renny, S ( 2005 : 11) dalam Diklat Implementasi Kurikulum 2004 Bagi Guru Bantu SMP tentang Model-Model Pembelajaran, mengemukakan bahwa pengajaran langsung yang bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi pelaku dan teori belajar sosial, telah dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan deklaratif secara terstruktur dengan pola kegiatan bertahap, selangkah demi selangkah.
B. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif didasari oleh falsafah hidup bekerjasama dan bergotong royong. Pembelajaran kooperatif berbeda dengan metode diskusi yang biasanya dilaksanakan di kelas, karena pembelajaran kooperatif menekankan pada pembelajaran kelompok kecil beranggotakan 2 sampai 6 orang, biasanya kelompok yang berjumlah ganjil sangat dianjurkan, hal ini untuk mempermudah pengambilan keputusan dalam membahas persoalan.
Dalam modul Pelatihan Terintegrasi disebutkan ciri-ciri dan manfaat Pembelajaran Kooperatif (Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas, 2005 : 21) sebagai berikut :
1. Ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan model kooperatif :
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3. Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda.
4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu.
2. Manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa :
- Meningkatkan kemampuan untuk bekerjasama dan bersosialisasi.
- Melatih kepekaan diri, empati melalui variasi perbedaan sikap dan perilaku selama bekerjasama.
- Meningkatkan motivasi belajar, harga diri dan sikap perilaku yang positif, sehingga siswa akan tahu kedudukannya dan belajar untuk saling menghargai satu sama lain.
- Mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri.
- Meningkatkan prestasi belajar dengan menyelesaikan tugas akademik, sehingga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.
Beberapa tehnik pembelajaran kooperatif, yaitu : Mencari Pasangan, Kepala Bernomor, Dua Tamu Dua Tinggal, Jigsaw, Kancing Gemerincing, Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis dan lain-lain. Dari beberapa tehnik pembelajaran kooperatif, penulis hanya akan meneliti tehnik pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis.
Langlah-langkah tehnik pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis menurut (Steven dan Slavin, 1995) :
1. Membentuk kelompok yang anggotanya ± 4 orang yang secara heterogen.
2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
3. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
5. Guru membuat kesimpulan.
6. Penutup.
Diilhami dari model pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis yang dikemukakan oleh Steven dan Slavin ini, penulis mencoba menerapkannya dalam proses pembelajaran dengan modifikasi, sehingga diharapkan terjadi perubahan didalam pelaksanaannya.
D. Motivasi Dalam Belajar
Menurut Sardiman A.M (2006 : 75) dikemukakan bahwa di dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Makin tepat motivasi yang diberikan akan semakin mendorong siswa meningkatkan aktivitas belajarnya dan hasil belajarpun akan menjadi optimal, kalau ada motivasi.
C. Hasil Belajar
Di dalam modul 3 buku 4 pelatihan terintegrasi, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, DEPDIKNAS (2005 : 6) dikemukakan hasil dari usaha belajar nampak dalam bentuk perubahan tingkah laku, baik secara subtantif yaitu terkait langsung dengan mata-mata pelajaran, maupun secara komprehensip yaitu perubahan prilaku yang menyeluruh.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999 : 200) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian dan atau pengukuran hasil belajar.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting dan Subyek Penelitian
Penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian tindakan kelas sebanyak 2 siklus. Subyek dan waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :
Tabel 1
Subyek dan Waktu Penelitian
|
SIKLUS |
SUBJEK |
JUMLAH |
WAKTU PELAKSANAAN |
|
1 |
Siswa kelas IX A SMPN 1 Ciledug |
48 Orang |
7 – 14 September 2006 |
|
2 |
Siswa kelas IX A SMPN 1 Ciledug |
48 Orang |
21 – 28 September 2006 |
B. Prosedur Penelitian
Prosedur atau langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah kegiatan-kegiatan yang berbentuk siklus yang mengacu pada model yang dikemukakan beberapa ahli. Menurut Suharsimi Arikunto : 2006, secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu : 1) perencanaan (planning), 2) pelaksanaan (acting), 3) pengamatan (observing), dan 4) refleksi (reflecting). Di dalam alur kegiatannya, tahap pelaksanaan dan pengamatan dilakukan dalam waktu yang sama.
Penelitian Tindakan Kelas yang penulis lakukan kali ini dengan melibatkan beberapa teman sebagai observer atau lebih dikenal dengan istilah penelitian kolaborasi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi unsur subjektivitas penelitian yang sering terjadi apabila penelitian dilakukan sendiri.
Siklus 1:
Perencanaan
1. Menghubungi Kepala Sekolah
2. Menentukan kelas subyek penelitian
3. Menyiapkan rencana pembelajaran
4. Menentukan fokus observasi dan aspek-aspek yang diamati
5. Menentukan jenis data
6. Menentukan pelaku observasi (observer), alat bantu observasi, pedoman observasi dan pelaksanaan observasi
7. Menentukan cara pelaksanaan dan pelaku refleksi
8. Menyusun instrumen penelitian
9. Menetapkan kriteria keberhasilan
Pelaksanaan
Langkah-langkah tehnik model pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis yang penulis kembangkan adalah sebagai berikut :
1. Membentuk kelompok kecil siswa yang beranggotakan 4 – 6 orang.
2. Menggunakan buku sumber/ artikel/ kliping/ brosur-brosur yang berhubungan dengan materi pelajaran.
3. Setiap siswa dalam kelompok membaca buku sumber dan brosur, bekerjasama saling membagi informasi mengenai brosur yang dibacanya, kemudian menuliskan apa yang telah dibaca pada lembar tugas yang diberikan.
4. Mempresentasikan hasil kelompok dengan tehnik simulasi.
5. Guru membuat kesimpulan.
Pengamatan
1. Guru mengamati pada setiap kegiatan yang dilakukan siswa. Dimulai dari permasalahan yang muncul pada awal pembelajaran hingga akhir. Berikan penilaian untuk masing-masing siswa tentang indikator keaktifan dan ketrampilan proses yang telah disiapkan.
2. Guru mengamati jalannya pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung dan kooperatif terpadu. Adakah permasalahan yang dihadapi siswa. Pada bagian – bagian mana mereka mengalami kesulitan.
3. Guru mengamati jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung dan kooperatif terpadu. Dilakukan evaluasi pada individu-individu yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya.
Refleksi
1. Secara kolaboratif guru menganalisis hasil pengamatan. Selanjutnya membuat suatu refleksi, membuat simpulan sementara terhadap pelaksanaan siklus 1.
2. Mendiskusikan hasil analisis berdasarkan hasil indikator pengamatan, membuat suatu perbaikan tindakan atau rancanngan revisi berdasarkan hasil analisis pencapaian indikator.
Siklus 2 :
Perencanaan
1. Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus 2 dengan melakukan revisi sesuai hasil refleksi siklus 1.
2. Menyiapkan lembar kerja siswa.
Pelaksanaan
1. Membentuk kelompok kecil siswa yang beranggotakan 4 – 6 orang.
2. Menggunakan buku sumber/ artikel/ kliping/ brosur-brosur yang berhubungan dengan materi pelajaran.
3. Setiap siswa dalam kelompok membaca buku sumber dan brosur, bekerjasama saling membagi informasi mengenai brosur yang dibacanya, kemudian menuliskan apa yang telah dibaca pada lembar tugas yang diberikan.
4. Mempresentasikan hasil kelompok dengan tehnik simulasi.
5. Guru membuat kesimpulan.
Pengamatan
1. Guru mengamati pada setiap kegiatan yang dilakukan siswa. Dimulai dari permasalahan yang muncul pada awal pembelajaran hingga akhir. Berikan penilaian untuk masing-masing siswa tentang indikator keaktifan dan ketrampilan proses yang telah disiapkan.
2. Guru mengamati jalannya pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung dan kooperatif terpadu. Adakah permasalahan yang dihadapi siswa. Pada bagian – bagian mana mereka mengalami kesulitan.
3. Guru mengamati jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung dan kooperatif terpadu. Dilakukan evaluasi pada individu-individu yang mampu dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya.
Refleksi
1. Secara kolaboratif guru menganalisis hasil pengamatan. Selanjutnya membuat suatu refleksi, membuat kesimpulan.
2. Mendiskusikan hasil analisis berdasarkan hasil indikator pengamatan.
C. Tehnik Pengumpulan Data
Untuk mendukung hasil penelitian dan penilaian dilakukan pengumpulan data-data. Ada dua jenis tehnik pengumpulan data yang digunakan penulis, yaitu :
1. Data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) yang dapat dianalitis secara deskriptif, misalnya dengan mencari nilai rata-rata, persentase keberhasilan belajar dari evaluasi belajar yang dilaksanakan
2. Data kualitatif yaitu data yang berupa hasil observasi dan pengamatan yang dituangkan dalam informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang aktivitas siswa mengikuti pelajaran dan keterampilan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar.
Secara keseluruhan alur penelitian dapat dilihat pada diagram berikut :
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Siklus I
Setelah melakukan tindakan sebanyak dua siklus, peneliti melakukan refleksi bersama rekan-rekan guru yang bertindak sebagai pengamat. Hasil refleksi pada siklus pertama melalui pengamatan (observasi) terlihat pada tabel 2 di bawah ini :
Tabel 2
Data Hasil Pengamatan tiap aspek PTK pada siklus 1
|
No |
ASPEK YANG DITELITI |
RATA-RATA NILAI |
KRITERIA PENILAIAN |
REFLEKSI |
|
1 |
Aktivitas Siswa dalam proses KBM |
77,05 |
BAIK |
Perlu ditingkatkan upaya membangkitkan minat siswa dalam memberikan pendapat dan berkomentar |
|
2 |
Keterampilan guru dalam proses pembelajaran |
83,55 |
SANGAT BAIK |
Perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi strategi dan tehnik pem belajaran, agar lebih menarik minat siswa dalam proses pembelajaran |
Pada siklus pertama, hasil pengamatan observer menggambarkan bahwa aktivitas siswa dalam proses pembelajaran baik dan keterampilan guru sangat baik. Ada beberapa perbaikan yang harus diperhatikan untuk lebih meningkatkan aktivitas belajar siswa, yaitu membangkitkan minat siswa untuk mengemukakan pendapat atau komentar, selain mengajukan pertanyaan, namun pada hasil penelitian siklus pertama telah menunjukkan hasil yang baik. Keterampilan guru dalam mengelola KBM di kelas berpengaruh baik pada aktivitas belajar siswa.
Tabel 3
Data Hasil Belajar Siswa Pada Siklus Pertama
|
No |
Rentang Nilai |
Frekuensi Absolut (f) |
Frekuensi Relatif (%) |
|
1 2 3 4 5 6 7 |
3,01 – 4,00 4,01 – 5,00 5,01 – 600 6,01 – 7,00 7,01 – 8,00 801 – 9,00 9,01 – 10,00 |
2 4 8 9 5 8 7 |
4,65 % 9,30% 18,60% 20,93% 11,63% 18,60% 16,28% |
|
|
Jumlah |
43 |
100% |
Sumber : Ulangan Harian Siswa kelas IX A SMPN 1 Ciledug
Jika digambarkan dalam histogram, akan tampak pada gambar di bawah ini :
|
Frekuensi |
10 |
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
9 |
|
||||||||||
|
8 |
|
|
|||||||||
|
7 |
|
||||||||||
|
6 |
|||||||||||
|
5 |
|
||||||||||
|
4 |
|
||||||||||
|
3 |
|||||||||||
|
2 |
|
||||||||||
|
1 |
|||||||||||
|
0 |
|||||||||||
|
|
|
3,01-4,00 |
4,01-5,00 |
5,01–6,00 |
6,01–7,00 |
7,01–8,00 |
8,01–9,00 |
9,01– 100 |
|||
|
|
|
||||||||||
|
|
|||||||||||
Gambar 1 : Histogram Data Hasil Belajar Siswa
Sedangkan data statistik hasil belajar siswa dapat di lihat pada tabel 4 di bawah ini :
Tabel 4
Data Statistik Hasil Belajar
|
Statistik |
Nilai |
|
Minimum Maksimum Rentang Rata – Rata Modus Angka Tengah |
3,00 10,00 7,00 7,16 6,7 4,8 |
Hasil belajar siswa menunjukkan hasil yang baik, angka rata-rata perolehan nilai siswa 7,16. Keaktifan siswa dalam KBM dan keterampilan guru mengelola proses pembelajaran mempunyai pengaruh yang baik terhadap hasil belajar siswa, karena pada saat berlangsungnya proses pembelajaran siswa terlihat cukup antusias dengan model pembelajaran yang dipergunakan.
A. Siklus II
Penelitian Tindakan Kelas pada siklus kedua dilaksanakan dengan berpedoman pada hasil refleksi siklus pertama. Perbaikan-perbaikan dilakukan untuk lebih mengoptimalkan hasil pengamatan dan hasil belajar siswa. Pengolahan data terhadap hasil observasi observer dan evaluasi belajar siswa dapat dijelaskan pada tabel 5.
Tabel 5
Data Hasil Pengamatan Tiap Aspek PTK Pada Siklus 2
|
No |
ASPEK YANG DITELITI
|
RATA-RATA NILAI |
KRITERIA KEBER- HASILAN
|
REFLEKSI |
|
1 |
Aktivitas Siswa dalam proses KBM |
81,10 |
SANGAT BAIK |
Perlu dipertahankan bahkan diting katkan lagi proses pembelajaran yang lebih optimal |
|
2 |
Keterampilan guru dalam proses pembelajaran |
90,02
|
SANGAT BAIK |
Perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi dalam tehnik dan strategi belajar mengajar |
Hasil pengamatan observer setelah dilakukan pengolahan data menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar sangat baik. Keterampilan guru dalam mengelola proses pembelajaran juga menunjukkan sangat baik. Kondisi ini perlu dipertahankan dan perlu ditingkatkan ke arah yang lebih baik.
Tabel 6
Data Hasil Belajar Siswa Pada Siklus Kedua
|
No |
Rentang Nilai |
Frekuensi Absolut (f) |
Frekuensi Relatif (%) |
|
1 2 3 4 5 6 |
4,01 – 5,00 5,01 – 600 6,01 – 7,00 7,01 – 8,00 801 – 9,00 9,01 – 10,00 |
1 1 3 1 19 18 |
2,33 % 2,33 % 6,98 % 2,33 % 44,19 % 41,87 % |
|
|
Jumlah |
43 |
100% |
Sumber : Ulangan Harian Siswa kelas IX C SMPN 2 Sumber
Data hasil belajar siswa dapat digambarkan dalam histogram di bawah ini :
|
Frekuensi |
19 |
|
|
|
|
|
|
|
|
18 |
|
|||||||
|
17 |
||||||||
|
16 |
||||||||
|
15 |
||||||||
|
14 |
||||||||
|
13 |
||||||||
|
12 |
||||||||
|
11 |
||||||||
|
10 |
||||||||
|
9 |
||||||||
|
8 |
||||||||
|
7 |
||||||||
|
6 |
||||||||
|
5 |
||||||||
|
4 |
||||||||
|
3 |
|
|||||||
|
2 |
||||||||
|
1 |
|
|
|
|||||
|
0 |
||||||||
|
|
|
3,01- 4,00 |
4,01 – 5,00 |
5,01– 6,00 |
6,01– 7,00 |
7,01 – 8,00 |
8,01 – 9,00 |
9,01 – 100 |
|
Nilai |
||||||||
Gambar 2 : Histogram data Hasil Belajar Siswa
Tabel 7
Data Statistik Hasil Belajar
|
Statistik |
Nilai |
|
Minimum Maksimum Rentang Rata – Rata Modus Angka Tengah |
4,00 10,00 6,00 8,83 8,55 8,68 |
Nilai hasil belajar sangat baik, nilai rata-rata yang diperoleh siswa sangat tinggi sebesar 8,83, hal ini dipengaruhi oleh aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran dan keterampilan guru dalam proses pembelajaran.
Bagaimana perbandingan hasil pengolahan data pada siklus pertama dan kedua, tabel di bawah ini menunjukkan keadaan tersebut.
Tabel 8
Hasil Tiap Aspek PTK Pada Siklus Pertama dan Kedua
|
No |
Aspek Penelitian |
Siklus 1 Rata-rata |
Siklus 2 Rata-rata |
Peningkatan (%) |
|
1 |
Aktivitas belajar siswa dalam proses KBM |
77,05 |
81,10 |
5,13% |
|
2 |
Keterampilan guru dalam proses pembelajaran |
83,55 |
90,02 |
7,74% |
|
3 |
Hasil evaluasi belajar siswa |
7,16 |
8,83 |
23,32% |
Berdasarkan data pada tabel di atas, rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus pertama sebesar 77,05 dengan kriteria penilaian baik, sedangkan pada siklus kedua 81,10. Terjadi peningkatan sebesar 5,13 %. Lebih kecilnya tingkat aktivitas siswa pada siklus pertama disebabkan beberapa hal :
- Siswa baru mengenal model pembelajaran kooperatif terpadu dan metode simulasi yang dilakukan
- Kemungkinan instrumen tes kurang sempurna
- Masih ada beberapa anggota dari tiap kelompok yang belum memanfaatkan informasi melalui brosur-brosur bank dan LKBB.
Untuk lebih meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, penulis mencoba alternatif pemecahan sebagai berikut :
- Lebih memperkenalkan model pembelajaran kooperatif terpadu dan pembelajaran langsung dalam KBM
- Guru lebih memaksimalkan pelayanan individu siswa dengan mengoptimalkan model pembelajaran langsung
- Lebih sering menggunakan tehnik diskusi dan simulasi dalam proses pembelajaran sebagai variasi dalam belajar
Keterampilan guru dalam mengajar pada kedua siklus telah mencapai tingkatan sangat baik dan perlu dipertahankan. Dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan, hasil pelaksanaan siklus kedua lebih maksimal dan optimal, hal ini ditunjukkan oleh peningkatan dan perolehan hasil belajar yang baik.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa :
1. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari rata-rata 7,16 yang berarti tinggi menjadi 8,83 yang berarti sangat tinggi.
2. Perencanaan dan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar sangat baik.
3. Aktivitas belajar siswa mengalami perubahan dari rata-rata 77,05 dengan kriteria baik menjadi rata-rata 81,10 sangat baik.
B. Saran
1. Model pembelajaran langsung dan pembelajaran kooperatif terpadu cukup baik diterapkan dalam proses pembelajaran. Di dalam pelaksanaannya, guru perlu memilih tehnik dan metode pengajaran yang tepat sehingga dapat tercipta suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa.
2. Jika guru memutuskan untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif terpadu dengan model pembelajaran lain, konsekuensi yang harus dihadapi guru adalah :
a. Guru harus memilih karakteristik materi pelajaran yang sesuai untuk diskusi
b. Guru harus aktif mengawasi kegiatan siswa agar kerjasama kelompok dapat efektif
c. Memberi teguran dan bimbingan kepada siswa secara langsung, bila ada siswa yang terlihat tidak bekerjasama
d. Harus mengelola waktu KBM dengan tepat dan melakukan kontrol waktu untuk setiap tahapan pembelajarannya
3. Buku paket hendaknya tidak dijadikan satu-satunya sumber belajar, berikan siswa sumber belajar lain yang dapat menimbulkan gairah untuk mengetahuinya.
4. Sebaiknya observer pada penelitian tindakan kelas adalah guru mata pelajaran yang setingkat agar memahami benar tentang materi , proses pembelajaran dan penilaiannya, sehingga penelitian dapat berjalan lancar.
Entry filed under: Penelitian Tindakan Kelas. Tags: .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed